Sukses

Lifestyle

Pria Hebat adalah yang Mampu Mengendalikan Amarahnya

Fimela.com, Jakarta Memiliki sosok pahlawan yang sangat berjasa dalam hidupmu? Punya pengalaman titik balik dalam hidup yang dipengaruhi oleh seseorang? Masing-masing dari kita pasti punya pengalaman tak terlupakan tentang pengaruh seseorang dalam hidup kita. Seperti pengalaman Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba My Hero, My Inspiration ini.

***

Oleh: BC-Ambulu - Jember

Aku beruntung bisa bertemu denganmu, sosok yang selama ini banyak berjuang untuk keluarga kecil kita. Meskipun banyak cibiran yang kau terima, engkau lebih memendamnya sendiri. Karena engkau takut aku memikirkan semuanya. Sungguh berat bebanmu, suamiku. Tapi, engkau menutupinya dengan senyuman.

Menikah denganmu adalah takdir yang kadang sering kutanyakan, apakah engkau memang jodohku atau kebetulan dipertemukan dan tinggal di bawah atap yang sama. Menikah denganmu sama sekali tanpa dasar cinta, memutuskan menikah dengan sosok yang kuyakini akan membahagiakanku kelak. Membebaskan dari belenggu menjadi gadis rumahan yang terkurung dalam rumah mungil tanpa tahu tujuan dan masa depannya. Kadang aku mendamba lelaki yang punya sederet koleksi kartu debit atau kendaraan roda empat dan rumah megah nan mewah. Tetapi aku sadar, aku bukan anak orang berada. Pantaskah bersanding dengan lelaki tersebut?

Allah memiliki jawaban dari pertanyaanku setiap sepertiga malam, mencari sosok itu. Dialah yang kini menjadi ayah dari anakku. Meskipun menikah tanpa cinta? Ya, tidak jarang kami berbeda pendapat dan seringkali aku menyalahkan keadaan. Mengapa harus menikah dengannya? Bukankah yang melamarku tidak hanya dia. Aku hanya bisa menangis sesenggukan di dalam kamar mandi. Hanya air segar yang bisa membuyarkan kesedihanku, dan ia datang memelukku. Hangat rasanya, meskipun kami tinggal dalam gubuk sederhana yang mewah (mepet sawah).

Kutahu pekerjaanmu tidak mudah, mengajar anak-anak kecil yang suka berlari juga sering berbuat onar. Sampai suaramu habis saat mengajar namun engkau ikhlas melakukan tiap hari demi anak didikmu. Tidak hanya itu, terkadang orang-orang kantor masih menyuruhmu mengerjakan pekerjaannya dan merangkap jadi fotografer untuk acara karnaval SD. Engkau tidak mengeluh walau tidak mendapatkan tambahan gaji.

Maafkan aku yang kadang memarahimu karena pulang larut, dan tidak sempat membantuku saat engkau sibuk. Padahal engkau sedang ada dalam tekanan kerjaan dan tugas kuliahmu. Saat kutanya kenapa tidak berhenti mengajar dengan upah honorer, engkau menjawab tidak ada tempat kerja yang bisa menolerir kuliah dan tamatan SMA. Aku kembali mengangguk takzim, padahal dalam hati yang terdalam hatiku teriris. Terkadang saat aku lelah dan merengek ingin pulang saja, engkau langsung ke dapur memasak, mencuci pakaianku dan memandikan bayi kami. Engkau tak banyak mengeluh padahal matahari sudah terik dan belum persiapan sekolah.

 

Selalu Bekerja Keras Pantang Menyerah

Kadang aku mengajukan diri untuk bekerja, engkau menyanggupi. Namun, keluarga kami tidak merestui, lantaran bayi kami masih mungil dan masih menyusu denganku. Aku benar-benar sedih, tidak mudah menghemat dan menahan keinginan membeli kebutuhan wanita. Lagi-lagi engkau menghibur dan memberiku semangat. Tentang rasa lelah yang kualami kelak akan menjadi tabungan amal.

Dia pernah mengutarakan isi hatinya, bahwa dia ingin sekali setiap hari memberiku hadiah. Namun, penghasilannya hanya cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Di tengah terhimpitnya masalah ekonomi, dia masih sanggup mengajakku makan di luar sekali tiap bulan atau berjalan-jalan ke rumah keluarganya. Aku terharu dengan perngorbanannya. Itu artinya ia mengikat kencang pada perutnya untuk jajan demi keluarga kecil kami.

Sahabatku yang menjodohkan aku dengan suami pernah berkata, bahwa aku beruntung punya suami pengertian dan sudah tinggal di rumah sendiri pemberian orang tuanya secara turun-temurun daripada harus mengontrak apalagi kumpul dengan mertua. Suamiku tidak banyak bicara ia lebih senang mengerjakan kegiatannya daripada menyahut omelanku yang tiada berhenti. Ia memilih diam bukan karena tidak mendengar, hanya saja tidak ingin memperkeruh keadaan.

Kadang kami tidak satu pandangan, aku yang suka marah dan ingin pisah. Ia mendengarkan keluhanku, menjadi teman curhat dan menyediakan bahu untuk sandaran. Kadang aku terlalu lemah dan pengecut, membuatnya sedih dan kecewa. Padahal ia sudah menahan emosi maupun tangannya. Sungguh ia pria yang sejati, tidak pernah kulihat ia marah untuk hal sepele apalagi bermain tangan.

Lelaki yang hebat bukan yang memiliki pedang maupun otot kuat untuk bertempur. Lelaki yang disebut pahlawan ketika ia bisa mengendalikan amarahnya dan mengatur emosinya padahal mampu untuk marah atau memukul. Ia yang membebaskan dirinya dari ketakutan apa pun. Sabar dan memberikan perhatian kepada istri. Membebat hatinya dengan cinta dan kasih sayang untuk melindungi orang-orang yang ia cintai.

 

#GrowFearless with FIMELA

Loading
Artikel Selanjutnya
Pengumuman Pemenang Share Your Stories: My Hero My Inspiration
Artikel Selanjutnya
Bagi Perempuan, Bekerja Penuh Waktu Bukanlah Suatu Kejahatan