Sukses

Parenting

Psikolog Setuju, 4 Pola Asuh ini yang Dinyatakan Paling Sukses dan Berikan Dampak Positif untuk Anak

Fimela.com, Jakarta Zaman sekarang untuk menjadi orangtua yang baik adalah dengan memiliki pendirian terhadap pola asuh. Akan tetapi, beberapa pola asuh modern yang tersebar di internet terkadang susah untuk ditiru atau di terapkan kepada si kecil.

Anak-anak sendiri memiliki kepribadian yang berbeda-beda. Bisa dikatakan kalau tingkat kenakalan anak-anak juga berbeda, mulai dari nakal tingkat ekstrim sampai nakal yang biasa saja. Maka dari itu, tidak semua pola asuh itu bisa diterapkan ke anak-anak. Apalagi sekarang ini pengaruh lingkungan juga bisa memberikan dampak terhadap tumbuh kembang serta perilaku anak. Sebagai orangtua, pastinya akan melakukan yang terbaik dalam melindungi, akan tetapi ada beberapa hal yang tidak bisa orangtua lakukan karena diluar kontrol.

Selain dari pola asuh moderen, pola asuh tradisional juga merupakan pola asuh yang bisa kamu terapkan kepada anak-anak kalian. Mungkin pola asuh ini kalian dapatkan saat anda tumbuh kembang dan kalian rasa pola asuh ini akan memberikan dampak kepada anak. Apalagi kalian juga merasa kalau pola asuh yang kalian dapatkan ini bisa memberikan dampak kepada anak kamu.

Maka dari itu, Sahabat FIMELA berikut adalah 4 macam pola asuh yang dinyatakan dapat memberikan dampak dan dinyatakan manjur oleh peneliti serta psikolog yang dikutip dari CNBC.com dan Parentingforbrain.com

 

 

Pola Asuh Permisif (Memanjakan)

Pola asuh permisif atau bisa dibilang pola asuh yang memanjakan, secara singkat pola asuh ini tidak memberikan tuntutan yang besar kepada anak, akan tetapi respons yang diberikan orangtua biasanya akan sangat besar. 

Ini tidak memiliki banyak aturan dan batasan yang diberikan oleh orangtua. Meskipun orangtua yang memiliki pola asuh permisif menetapkan sebuah aturan, akan tetapi mereka enggan untuk menerapkan atau membiarkan peraturan ini berjalan. 

Orangtua dengan tipe ini biasanya memiliki perilaku yang hangat dan memanjakan, tetapi mereka juga tidak mau untuk mengecewakan anak anak mereka. Orangtua yang bersikap halus umumnya Akan bersikap tidak peduli terhadap emosi yang diberikan atau dikeluarkan oleh anak mereka. Akan tetapi tidak bisa dipungkiri mereka akan mendorong anak mereka secara perlahan untuk mendorong keterampilan pengaturan emosi anak-anak. 

Dilansir oleh jurnal yang berjudul Parenting Style and Practices of Latino Parents and Latino Fifth Graders’ Academic, Cognitive, Social, and Behavioral Outcomes  Menyatakan bahwa anak-anak yang memiliki orangtua permisif cenderung akan memiliki hasil yang lebih buruk daripada anak-anak yang memiliki orangtua otoriter. Berikut adalah beberapa hasil didikan dari anak permisif. 

  • Tidak bisa mengikuti aturan yang jelas,
  • Regulasi emosional yang lebih buruk,
  • Kurangnya pengendalian diri,
  • Perilaku bermasalah seperti agresi,
  • Menurunkan rasa percaya diri,
  • Kecenderungan egosentris,
  • Menghadapi lebih banyak masalah dalam hubungan dan interaksi sosial
  • Terkait dengan keterikatan ambivalen

Pengasuhan yang Lalai (Tidak Terlibat atau Tidak Terlibat)

Tipe orangtua lalai atau bisa disebut orangtua yang tidak gimana terlibat dalam pertumbuhan anak biasanya memiliki tuntutan dan respon yang rendah untuk anak mereka. 

Orangtua dengan tipe didik ini biasanya tidak akan menetapkan batasan atau tegasan, bahkan standar yang tinggi untuk anak mereka. Bahkan mereka tidak gimana memberikan perhatian khusus terhadap kebutuhan anak-anak mereka dan bahkan mereka tidak terlibat atau ikut serta dalam pertumbuhan mereka. 

Orangtua yang memiliki tipe didik seperti ini mungkin memiliki masalah atau kenangan traumatis yang belum terselesaikan, seperti depresi, pelecehan, atau pengabaian emosional ketika mereka masih kecil. Maka dari itu, banyak dari orangtua secara tidak sengaja menekankan pola asuh ini karena mereka dulunya diperlakukan hal yang sama bahkan lebih buruk. 

Berdasarkan jurnal yang berjudul Raising Children with Poor School Performance: Parenting Styles and Short- and Long-Term Consequence for Adolescent Adult Development menyatakan anak-anak yang dididik dengan pola asuh seperti ini akan memiliki kualitas personal yang buruk jika dibandingkan dengan gaya asuh yang telah disebutkan. Berikut adalah beberapa hasil dari anak yang mendapatkan pola asuh ini. 

  • Prestasi sekolah yang buruk,
  • Mereka lebih impulsif,
  • Tidak bisa mengatur emosi sendiri,
  • Menghadapi lebih banyak masalah perilaku nakal dan kecanduan,
  • Memiliki lebih banyak masalah mental — misalnya, perilaku bunuh diri pada remaja,
  • Rawan penyalahgunaan narkoba atau alkoholisme.

Pola Asuh Otoriter (Disiplin)

Pola otoriter atau pola asuh yang menekankan kedisiplinan, biasanya memiliki tuntutan yang tinggi akan tetapi respon yang diberikan oleh orangtua rendah. Orangtua dengan pola asuh ini biasanya akan lebih cenderung memiliki tingkat kontrol yang lebih tinggi dan daya tanggap terhadap anak lebih rendah. Hal ini bisa dikatakan sebagai ciri khas dari pola asuh otoriter. 

Meskipun kalimat otoriter dan otoritatif memiliki nama yang serupa, akan tetapi makna dari pola asuh ini berbeda antara satu sama lain. Faktanya kedua pola asuh ini memiliki perbedaan yang signifikan terutama dalam keyakinan, tuntutan, dan pendekatan pengasuhan. 

Orangtua otoriter biasanya akan lebih tegas dan menuntut ketat dari anak anak Tanpa memberikan penjelasan yang jelas. Mereka biasanya akan menggunakan alasan seperti “Karena saya bilang begitu”. 

Pola asuh otoriter bisa disebut sebagai pola asuh disiplin. Dimana orangtua otoriter memandang dirinya sebagai figur yang memiliki otoritas yang kuat. Mereka akan menggunakan pendisiplinan yang kuat dan keras, serta hukuman, seperti hukuman fisik untuk mendapatkan kendali dan perilaku psikologis. Strategi pendisiplinan ini akan bersifat diktator dan koersif, yaitu sewenang-wenang, ingin ditaati, mendominasi, dan memandang tingkat status. 

Intinya mereka akan melakukan segala hal agar komunikasi hanya berjalan satu arah melalui peraturan dan perintah yang ketat. Segala alasan atau upaya untuk bertukar pikiran akan dianggap sebagai omong kosong. Mereka percaya bahwa untuk mencapai kedisiplinan mereka perlu mendidik secara keras dan dapat dibenarkan karena akan menguatkan anak mereka atau membuat mereka menjadi lebih tangguh. 

Dasarkan penelitian yang berjudul Parenting Style and Youth Outcome in the UK  menyatakan bahwa anak anak yang mendapat pola asuh otoriter akan memiliki karakteristik seperti berikut. 

  • Disposisi yang tidak bahagia,
  • Kurang mandiri,
  • Merasa tidak aman,
  • Rendah diri,
  • Perilaku yang lebih memberontak,
  • Lebih banyak masalah perilaku,
  • Kurangnya keterampilan pengaturan emosi dan lebih banyak amarah,
  • Prestasi akademis yang lebih buruk,
  • Kompetensi sosial yang lebih buruk,
  • Rentan terhadap internalisasi perilaku dan masalah mental,
  • Penyalahgunaan zat​ berbahaya,
  • Rawan depresi,
  • Terkait dengan keterikatan penghindar​ dan keterikatan yang tidak terorganisir

Pola Asuh Otoritatif (Demokratis)

Miliki nama yang serupa dengan pola asuh otoriter, pola asuh otoritatif atau demokratis memiliki atau melibatkan ekspektasi yang tinggi terhadap prestasi dan kedewasaan, tetapi peran orangtua otoritatif juga sangat terbuka dan responsif terhadap kebutuhan anak. Orangtua yang memiliki pola asuh ini akan menetapkan aturan dan menegakkan batasan dengan memantau, berdiskusi secara terbuka, memberikan bimbingan, dan menggunakan disiplin induktif .

Orangtua otoritatif akan memberikan alasan dan penjelasan atas segala tindakan yang mereka lakukan atau mereka putuskan. Penjelasan ini dilakukan agar anak memiliki rasa kesadaran dan memiliki tujuan untuk mengajari mereka tentang nilai, moral, dan tujuan. Metode pendisiplinan ini digambarkan sebagai metode konfrontatif atau yang beralasan. Singkatnya pola asuh otoritatif dapat dinegosiasikan, berorientasi padat hasil, dan berkaitan dengan peraturan perilaku, bukan paksaan. 

Orangtua otoritatif akan bersifat tegas, tetapi tidak mengganggu atau membatasi. Gaya kedisiplinan mereka akan berorientasi ke arah pemberian dukungan dan bukan menghukum. Mereka akan menghormati otonomi anak-anak, memberikan mereka banyak kebebasan dan mendorong kemandirian. Komunikasi yang diajarkan juga dua arah, gaya asuh ini dikenal dengan gaya pengasuhan demokratis. Intinya pola asuh ini akan membuat orangtua lebih dihargai dan terlihat lebih berwibawa. 

Berdasarkan penelitian yang berjudul Consequence of Parenting on Adolescent Outcomes, orangtua yang memiliki pola asuh ini cenderung akan menghasilkan anak dengan karakteristik seperti berikut. 

  • Tampil bahagia dan puas,
  • Lebih mandiri,
  • Lebih aktif,
  • Prestasi akademis yang lebih tinggi,
  • Memiliki harga diri yang tinggi,
  • Keterampilan sosial yang kompeten,
  • Kesehatan mental yang lebih baik,​
  • Tidak memiliki tendensi kasar,
  • Memiliki keterikatan yang sehat,
  • Hubungan orangtua-anak yang baik,

Bisa dikatakan polah asuh ini jauh lebih baik jika dibandingkan dengan yang lain.

Penulis: FIMELA Sherly Julia Halim

 

 

Follow Official WhatsApp Channel Fimela.com untuk mendapatkan artikel-artikel terkini di sini.

What's On Fimela
Loading