Di Sekolah Jepang Jarang Ada Tukang Bersih-Bersih, Ini Sebabnya

Fimela diperbarui 03 Nov 2016, 16:20 WIB

Anak-anak di Jepang ternyata tidak mengambil ujian masuk sekolah sebelum mereka berusia 10 tahun. Sampai pada usia itu, anak-anak diajarkan hal-hal lebih penting dalam hidup, yaitu cara bagaimana hidup.

Mungkin terdengar aneh, tapi mengajarkan bagaimana hidup adalah mengajarkan hal-hal seperti bagaimana merawat hewan peliharaan, cara menghargai dan menghormati orang, dan bagaimana menghargai lingkungan. Bahkan anak-anak diajarkan disiplin, bertanggung jawab, mengendalikan diri dan belajar keadilan.

Dan ternyata, salah stau bentuk pelajaran yang diberikan di sekolah adalah dengan menjaga kebersihan. Uniknya, kebanyakan sekolah jarang ada yang mempekerjakan tukang bersih-bersih. Karena setiap siswa lah yang seharusnya menjaga kebersihan tersebut.

Secara sederhana anak diajarkan menjaga kebersihan lingkungan yang ditinggalinya bersama teman-teman. Dari hal ini, anak akan memahami bagaimana caranya bertanggung jawab dan menghargai lingkungan. Bukan hanya itu, anak-anak saling membantu, gotong royong membersihkan sekolah dan bahkan kamar mandi.

Mereka belajar bahwa kebersihan adalah tanggung jawab setiap orang. Tugas membersihkan dibagi, ada juga yang bertugas membuang sampah dan mengelap meja makan. Anak-anak makan siang di dalam kelas bersama teman-teman dan guru untuk menciptakan kebersamaan dan keakraban.

Setelah makan siang, mereka juga membersihkan tempat makan atau membuang bungkus makanan ke tempat sampah. Menjaga kebersihan meja kelas masing-masing. Tidak hanya itu, beberapa sekolah bahkan mengadakan ekstra kurikuler atau kegiatan bersama menanam sayur atau buah-buahan agar bisa dimakan bersama di kelas.

Jadi, tak ada yang egois saling menyalahkan dan melempar tanggung jawab ketika tiba waktunya bersih-bersih. Karena setiap anak menghuni kelas dan setiap anak pun bertanggung jawab atas kebersihan kelas tersebut. Patut ditiru ya ajaran sekolahnya.

(vem/feb)