Kenali Metode Makan 80/20! Tetap Menikmati Makanan Favorit Sambil Mengontrol Asupan Kalori

Siti Nur ArishaDiterbitkan 12 Februari 2026, 13:30 WIB

Fimela.com, Jakarta - Menjaga asupan kalori sering kali dianggap sebagai proses yang melelahkan. Banyak orang merasa harus menahan diri secara berlebihan, menghitung setiap suapan, dan menghindari berbagai jenis makanan yang disukai. Tak jarang, pola makan seperti ini justru sulit dipertahankan karena terasa terlalu membatasi dan menekan secara mental.

Padahal, pola makan yang sehat seharusnya bisa berjalan berdampingan dengan kenikmatan saat makan. Pendekatan yang fleksibel justru membantu seseorang lebih konsisten dalam jangka panjang. Di sinilah metode makan 80/20 menjadi menarik, karena tidak menuntut perubahan ekstrem, melainkan mengajak untuk lebih sadar dalam mengatur keseimbangan.

Metode ini semakin dikenal sebagai alternatif pola makan berkelanjutan. Dilansir dari Verywell Fit, metode 80/20 bukanlah diet ketat, melainkan perubahan cara pandang terhadap makanan, dengan menekankan keseimbangan antara pilihan bernutrisi dan ruang untuk menikmati makanan favorit.

What's On Fimela
2 dari 3 halaman

Memahami Prinsip Dasar Metode Makan 80/20

Metode makan 80/20 berangkat dari konsep sederhana yaitu sebagian besar asupan harian difokuskan pada makanan bernutrisi, sementara sebagian kecil sisanya memberi ruang untuk fleksibilitas. (foto/dok: freepik)

Metode makan 80/20 berangkat dari konsep sederhana yaitu sebagian besar asupan harian difokuskan pada makanan bernutrisi, sementara sebagian kecil sisanya memberi ruang untuk fleksibilitas. Pola ini membantu tubuh mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan, tanpa menghilangkan aspek sosial dan emosional dari kegiatan makan.

Alih-alih mengelompokkan makanan ke dalam kategori tertentu, metode ini mendorong kesadaran akan porsi, frekuensi, dan kualitas makanan yang dikonsumsi. Dengan begitu, menjaga kalori tidak lagi terasa seperti pembatasan, melainkan bagian dari rutinitas yang lebih seimbang.

Mengapa Metode 80/20 Dianggap Lebih Mudah Dijaga?

Salah satu alasan metode 80/20 banyak diminati adalah karena sifatnya yang realistis. Tidak ada keharusan untuk menghitung kalori secara detail atau mengikuti aturan yang rumit. Selama sebagian besar pilihan makanan berasal dari sumber bernutrisi, tubuh tetap berada dalam jalur yang mendukung kesehatan dan pengelolaan berat badan.

Pendekatan ini juga membantu mengurangi kecenderungan makan berlebihan akibat rasa tertekan. Ketika seseorang tahu bahwa ia tetap memiliki ruang untuk menikmati makanan favorit, keinginan untuk makan berlebihan justru cenderung berkurang.

 

3 dari 3 halaman

Cara Metode 80/20 Membantu Mengontrol Kalori

Dengan mengutamakan makanan utuh yang kaya serat dan protein, rasa kenyang dapat bertahan lebih lama. Hal ini secara alami membantu mengurangi keinginan untuk ngemil berlebihan. (foto/dok: freepik)

Dengan mengutamakan makanan utuh yang kaya serat dan protein, rasa kenyang dapat bertahan lebih lama. Hal ini secara alami membantu mengurangi keinginan untuk ngemil berlebihan. Di sisi lain, fleksibilitas pada porsi tertentu membuat pola makan terasa lebih manusiawi dan mudah disesuaikan dengan aktivitas sosial sehari-hari.

Kontrol kalori dalam metode ini tidak dilakukan secara kaku, melainkan melalui kebiasaan yang terbentuk dari waktu ke waktu. Kesadaran terhadap sinyal lapar dan kenyang menjadi bagian penting dalam menjaga keseimbangan tersebut.

Apakah Metode Makan 80/20 Cocok untuk Semua Orang?

Metode 80/20 bisa menjadi pilihan yang masuk akal bagi banyak orang yang ingin menjaga berat badan atau memperbaiki pola makan tanpa tekanan berlebihan. Namun, hasilnya tetap bergantung pada konsistensi dan pilihan makanan secara keseluruhan.

Bagi Sahabat Fimela yang memiliki kebutuhan kesehatan tertentu, menyesuaikan pola makan dengan kondisi pribadi tetap menjadi hal yang penting. Pendekatan ini sebaiknya dipandang sebagai panduan fleksibel, bukan aturan mutlak.

Dengan pendekatan yang seimbang dan realistis, metode makan 80/20 membantu menjaga kalori tanpa menghilangkan kesenangan saat makan. Pola ini mengingatkan bahwa gaya hidup sehat bukan tentang pembatasan ekstrem, melainkan tentang keseimbangan yang bisa dijalani dalam jangka panjang. 

Penulis: Siti Nur Arisha