Makan karena Lapar atau Hanya Emotional Eating? Ini Cara Membedakannya

Kayla BridgitteDiterbitkan 29 Mei 2026, 16:00 WIB

Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, pernahkah merasa tiba-tiba ingin mengonsumsi cokelat atau keripik asin sesaat setelah menghadapi setumpuk pekerjaan yang melelahkan? Padahal, baru saja satu jam yang lalu Sahabat Fimela menikmati makan siang yang cukup mengenyangkan. Fenomena ini sering kali disebut sebagai emotional eating atau makan karena dorongan emosi. Di tengah dinamika kehidupan perempuan modern yang penuh tuntutan, membedakan antara kebutuhan fisik dan pelarian emosional menjadi tantangan tersendiri. 

Mengenal Apa itu Emotional Eating?

Melansir dari Mayo Clinic, lapar emosional atau emotional eating adalah kondisi saat Sahabat Fimela makan demi merasa lebih baik ketika sedang sedih, seperti saat merasa stres, marah, takut, bosan, atau kesepian. Peristiwa besar dalam hidup atau masalah sehari-hari yang sepele sekalipun bisa memicu emosi negatif. Hal ini sering kali berujung pada makan berlebihan dan mengganggu usaha Sahabat Fimela untuk menjaga berat badan ideal.

Lapar fisik biasanya muncul secara bertahap dan dapat dipuaskan dengan berbagai jenis makanan sehat. Sebaliknya, lapar emosional terasa sangat mendesak dan sering kali membuat Sahabat Fimela merasa harus makan detik itu juga. Lapar ini tidak berpusat di perut yang keroncongan, melainkan di pikiran yang mencari rasa nyaman. Mengenali perbedaan ini sangat krusial agar Sahabat Fimela tidak terjebak dalam siklus rasa bersalah setelah makan. Kita perlu menyadari bahwa makanan memang memberikan energi, namun ia bukan solusi permanen untuk mengatasi stres, kecemasan, atau rasa bosan yang sedang melanda.

2 dari 4 halaman

Mengenali Perbedaan Antara Lapar Emosional dan Lapar Fisik

Strategi cerdas membedakan kebutuhan nutrisi asli dan dorongan emosi demi menjaga kesehatan mental serta fisik Sahabat Fimela. [Dok/Pexels.com/Andres Ayrton].

Sahabat Fimela, sering kali merasa bingung saat keinginan makan muncul secara mendadak di tengah malam atau saat stres bekerja. Apakah itu tanda tubuh butuh energi atau hanya sekadar pelarian emosi? Mengenali perbedaan keduanya akan membantu Anda membuat keputusan yang lebih bijak bagi kesehatan jangka panjang.

Lapar Fisik (Physical Hunger)

1. Muncul Secara Bertahap 

Rasa lapar ini tidak datang tiba-tiba. Sahabat Fimela akan merasakannya perlahan sejak jam makan terakhir dan intensitasnya meningkat seiring waktu.

2. Terbuka pada Banyak Pilihan Makanan 

Saat benar-benar lapar, Sahabat Fimela tidak akan pilih-pilih. Sayuran, buah, atau nasi rames tetap akan terasa nikmat karena tubuh memang butuh asupan nutrisi.

3. Sinyal Terasa Jelas di Perut 

Sahabat Fimela akan merasakan perut yang kosong, berbunyi keroncongan, atau bahkan sedikit lemas jika sudah terlalu lama tidak makan.

4. Mudah Merasa Puas dan Berhenti 

Begitu lambung terisi, otak akan mengirimkan sinyal kenyang. Sahabat Fimela akan berhenti makan secara alami tanpa merasa harus menghabiskan semua makanan secara berlebihan.

5. Tidak Memicu Rasa Bersalah 

Karena Sahabat Fimela makan untuk kebutuhan biologis, perasaan akan tetap tenang dan bertenaga setelah piring bersih.

3 dari 4 halaman

Lapar Emosional (Emotional Eating)

Lapar emosional muncul secara tiba tiba dan dipicu oleh stres, kebosanan, hingga kebiasaan lama yang tanpa sadar membuat kita makan berlebihan. [Dok/Pexels.com/Pavel Danilyuk].

1. Datang Secara Mendadak dan Mendesak 

Lapar ini menyerang seketika dan terasa sangat darurat. Sahabat Fimela merasa harus makan detik itu juga seolah-olah tidak bisa ditunda lagi.

2. Mengidamkan Makanan Spesifik (Comfort Food) 

Sahabat Fimela hanya menginginkan makanan tertentu yang tinggi gula, garam, atau lemak. Misalnya, Sahabat Fimela sangat butuh cokelat atau mi instan dan tidak mau diganti dengan buah.

3. Terjadi Hanya di Pikiran 

Bukannya perut yang berbunyi, Sahabat Fimela justru terus terbayang pada tekstur atau aroma makanan tertentu. Fokus Sahabat Fimela adalah pada lidah dan rasa, bukan rasa kenyang.

4. Makan Tanpa Sadar atau Mindless 

Sering kali Sahabat Fimela tidak sadar sudah menghabiskan satu bungkus besar keripik sambil menonton televisi atau melamun saat merasa stres.

5. Sering Berakhir dengan Penyesalan 

Setelah makan, Sahabat Fimela justru merasa sedih, bersalah, atau menyesal karena tahu bahwa Sahabat Fimela makan bukan karena lapar yang sebenarnya. 

Pemicu Utama Emotional Eating

Stres yang Menumpuk

Dunia yang serba cepat membuat hormon kortisol melonjak. Hormon ini memicu keinginan makan camilan asin, manis, atau gorengan demi mendapatkan rasa senang instan.

Memendam Perasaan

Makan sering jadi pelarian untuk membungkam emosi negatif seperti marah, sedih, atau cemas. Sahabat Fimela menggunakan makanan untuk mati rasa agar tidak perlu menghadapi perasaan sulit.

Rasa Bosan dan Hampa

Pernahkah Sahabat Fimela makan hanya agar punya kegiatan saat luang? Makanan sering digunakan untuk mengisi kekosongan hati atau rasa tidak puas dalam hidup.

Kebiasaan Masa Kecil

Ingatkah saat orang tua memberi es krim sebagai hadiah? Kebiasaan ini sering terbawa hingga dewasa, di mana Sahabat Fimela mencari makanan manis untuk bernostalgia atau menghibur diri.

Pengaruh Lingkungan Sosial

Sangat mudah untuk makan berlebihan saat sedang berkumpul dengan teman atau keluarga. Terkadang kita ikut makan banyak hanya karena semua orang melakukannya atau karena merasa gugup di keramaian.

4 dari 4 halaman

Langkah Bijak Mengatasi Dorongan Makan Saat Stres Melanda

Strategi jangka panjang untuk menjaga kesehatan mental dan fisik Sahabat Fimela agar tidak lagi menjadikan makanan sebagai pelarian. [Dok/Pexels.com/KATRIN BOLOVTSOVA].

Sesekali menggunakan makanan sebagai penyemangat, hadiah untuk diri sendiri, atau untuk merayakan momen bahagia sebenarnya bukan hal yang buruk, Sahabat Fimela. Namun, masalah muncul saat makan menjadi mekanisme utama Sahabat Fimela untuk menghadapi emosi. Berikut langkah yang bisa dicoba untuk menghentikan emotional eating:

Mulai Menulis Jurnal Makanan dan Suasana Hati 

Catat setiap kali Sahabat Fimela merasa ingin ngemil secara impulsif. Tuliskan apa yang Sahabat Fimela makan, kejadian apa yang memicu rasa kesal, serta perasaan Anda sebelum, saat, dan sesudah makan. Seiring berjalannya waktu, Sahabat Fimela akan melihat pola pemicunya, apakah itu karena deadline pekerjaan atau komentar kritis dari teman.

Temukan Cara Lain untuk Menenangkan Hati 

Diet sering kali gagal karena emosi mengambil alih kontrol logika. Memahami pemicu saja tidak cukup. Sahabat Fimela perlu mencari alternatif kegiatan selain makanan untuk memenuhi kebutuhan emosional. Temukan aktivitas yang bisa membuat Sahabat Fimela merasa puas dan tenang tanpa harus melibatkan kalori berlebih. 

Targetkan Tidur 8 Jam Setiap Malam 

Saat Sahabat Fimela kurang tidur, tubuh akan mengidamkan makanan manis untuk mendapatkan energi instan. Istirahat yang cukup membantu Sahabat Fimela mengontrol nafsu makan dan mengurangi keinginan ngemil yang berlebihan.

Luangkan Waktu untuk Relaksasi 

Berikan izin pada diri sendiri untuk bersantai minimal 30 menit setiap hari. Gunakan waktu ini untuk melepas penat dan mengisi ulang energi Sahabat Fimela dari segala rutinitas pekerjaan yang padat.