Sukses

Lifestyle

Demi Masa Depan yang Cerah, Sebaiknya Kurangi Keluhan

Fimela.com, Jakarta Tahun baru, diri yang baru. Di antara kita pasti punya pengalaman tak terlupakan soal berusaha menjadi seseorang yang lebih baik. Mulai dari usaha untuk lebih baik dalam menjalani kehidupan, menjalin hubungan, meraih impian, dan sebagainya. Ada perubahan yang ingin atau mungkin sudah pernah kita lakukan demi menjadi pribadi yang baru. Seperti kisah Sahabat Fimela yang diikutsertakan dalam Lomba Change the Old Me: Saatnya Berubah Menjadi Lebih Baik ini.

***

Oleh: Dewi Aryanti - Jambi

Yang berlalu biarlah berlalu dan lepaskan. Tahun lalu adalah sebuah pembelajaran kedewasaan. Penuh cerita baik manis maupun pahit. Ada duka dan tawa. Ada tangis dan juga canda. Ada yang datang lalu pergi. Ada yang memberi pelangi pun mendung di waktu yang sama. Semua menjadi kombinasi yang apik ‘menyerang’ kesiapanku dalam menghadapinya.

Aku dipaksa siap meski aku tidak sepenuhnya siap. Aku yang masih terkesiap dengan ‘kejutan’ yang diberi semesta, tidak diberi waktu untuk mencerna semua yang terjadi begitu cepat. Aku mencoba mengikuti ritme yang ada. Aku berusaha menjaga kewarasanku untuk tetap sadar dengan setiap keputusan yang telah aku tentukan. Memahami setiap risiko dari apa yang telah aku tetapkan. Demi ketenangan hati dan kewarasan diri di masa depan aku dilarang menyerah dan mengeluh.

Menjadi baik itu bagiku disetiap waktu. Bukan hanya di awal tahun. Namun kali ini aku mengubah alur yang selama ini aku lalui. Alih-alih menulis daftar panjang resolusi aku lebih memilih melatih diri dan kesiapan mentalku menghadapi dunia yang semakin kejam.

Usia yang semakin bertambah menyadarkanku bukan waktunya lagi bergelung pada kemalangan dan kemalasan. Bersungut-sungut akulah yang paling menderita seolah hanya aku yang memiliki beban hidup. Menunda banyak kebaikan seolah kedatangan izrail masihlah lama. Menimbun banyak dosa seolah yakin masih ada hari esok untuk meminta ampun. Demi masa depan yang cerah kamu dilarang berleha-leha, membuang waktu dengan sia-sia.

Tentukan Arahmu

Demi masa depan yang cerah aku dilarang untuk kalah. Kalah pada keadaan yang membuatku takut pun mundur melangkah melaju. Tolong ini bukan waktunya lagi berasumsi negatif dengan hal-hal yang belum pernah dicoba, yang belum tentu terjadi.

“Melangkahlah, tentukan arahmu sebelum terlambat," bisik hati kecilku. Sudahi masa membuang-buang kesempatan demi menunggu sesuatu yang belum pasti. Demi masa depan yang bahagia kamu dilarang jatuh tersebab komentar manusia.

Untuk diri yang telah tumbuh dewasa secara usia. Kenapa mesti uring-uringan dengan anggapan manusia? Apalagi pada manusia yang tidak dikenal. Kenapa mesti meledak emosi hanya celaan manusia yang tidak kau ketahui. Sebuah pelajaran yang aku petik tentang manusia-manusia yang tidak bertanggungjawab. Yang lisannya begitu ringan berhujat. Orang-orang yang membuang tenaga dan waktu. Aku melatih diri untuk bijak menahan lisan. Sebab nilai diriku tercemin dari apa yang lisanku ucapkan.

Demi masa depan bahagia yang menanti diujung perjalanan. Jadilah manusia yang bermoral. Aku bukanlah wanita yang disibukkan dengan kebisingan dunia. Aku memilih menepi dari objek perhatian manusia. Menjadi terkenal penuh dengan eksitensi bukan lagi tujuanku. Menjadi istimewa di hadapan manusia bukan lagi sesuatu yang aku impikan. Aku mundur jadi manusia yang apatis. Dan melatih diri menjadi manusia yang memiliki empati nan tau menempatkan diri. Elegan dalam menerima kritikan. Dan santai menerima nasihat.

Aku melatih diri dan hati untuk ikhlas melepas sesuatu yang bukan untukku. Berhenti memaksa sesuatu yang tidak ditakdirkan untuk aku miliki. Demi masa depan yang aku lukis dalam benak. Kencangkan doa penuh tulus adalah senjataku. Sebab sekeras apa pun usahaku jika Dia tak menghendaki hanyalah seonggok khayalan yang hilang ditelan waktu.

#GrowFearless with FIMELA

;
Loading