Review Buku Novel Twenty-Four Eyes Karya Sakae Tsuboi

Endah Wijayanti diperbarui 08 Agu 2021, 10:15 WIB

Fimela.com, Jakarta Miss Oishi menjadi guru baru yang akan mengajar di sebuah desa miskin di tanjung. Berbeda dari guru-guru baru sebelumnya, penampilan dan gaya Miss Oishi dianggap aneh. Ia menaiki sepeda untuk berangkat pulang pergi sekolah, bahkan memakai baju yang dianggap terlalu Barat. Karena hal itulah, ia pun menjadi buah bibir.

Tidaklah mudah untuk menjaga semangat tetap mengajar di sebuah desa miskin. Namun, kehadiran 12 murid dengan karakter yang beragam menjadi motivasi tersendiri bagi Miss Oishi. Apalagi setiap murid punya kepribadian unik dengan latar belakang keluarga yang beragam, hal itu menghadirkan sesuatu yang berbeda di hati Miss Oishi.

What's On Fimela
2 dari 2 halaman

Novel Dua Belas Pasang Mata

Twenty Four Eyes./Copyright Endah

Judul: Twenty-Four Eyes (Dua Belas Pasang Mata)

Penulis: Sakae Tsuboi

Alih bahasa: Tanti Lesmana

Desain dan ilustrasi sampul: Martin Dima

Penerbit: Gramedia Pustaka Utama

Sebagai guru baru, Bu Guru Oishi ditugaskan mengajar di sebuah desa nelayan yang miskin. Di sana dia belajar memahami kehidupan sederhana dan kasih sayang yang ditunjukkan murid-muridnya. Sementara waktu berlalu, tahun-tahun yang bagai impian itu disapu oleh kenyataan hidup yang sangat memilukan. Perang memorak-porandakan semuanya, dan anak-anak ini beserta guru mereka mesti belajar menyesuaikan diri dengan perubahan zaman.

***

"Aku tidak menyalahkannya. Anak-anak seusianya masih ingin bermain-main, tapi dia justru mesti menjaga bayi setiap hari. Wajar saja kalau dia merasa ingin memberontak." (hlm. 72)

Tumbuh dan besar di zaman perang tidaklah mudah. Semua anak didik Miss Oishi harus berusaha lebih keras untuk bisa tetap sekolah. Bahkan tak sedikit yang putus sekolah atau terpaksa tidak melanjutkan sekolah karena keadaan.

Anak-anak itu merasa puas bisa memakai sandal jerami biasa, dan semangat mereka tinggi karena hari ini mereka memakai sandal jerami yang masih baru. (hlm. 103)

Meski kehidupan anak-anak didik Miss Oishi tidak mudah, tapi mereka masih bisa menemukan kegembiraan mereka sendiri. Walau awalnya tampak kurang bisa menerima Miss Oishi sebagai guru baru tapi ketika melihat dan menyadari ketulusan hati Miss Oishi, anak-anak itu merasa tak bisa kehilangan guru kesayangannya itu.

Bagi anak-anak perempuan, hidup mereka pada zaman itu tidak mudah. Ada yang sudah harus memikul tanggung jawab dan beban berat mengasuh adik atau menggantikan ibu memasak. Ada yang bahkan harus melepaskan impiannya untuk melanjutkan sekolah. Lebih sedih lagi saat ada yang merasa menyesal dilahirkan sebagai anak perempuan.

Setiap kali ibunya sedang tidak sehat, Matsue harus memasak, sebab dia tidak mempunyai nenek untuk menggantikannya. Seperti itulah keadaannya sejak dia masih sangat kecil. (hlm. 107)

Ibu Guru ingat bahwa Kotoe pernah menulis dalam karangannya: Aku menyesal dilahirkan sebagai anak perempuan. Ayahku selalu mengeluh, kenapa aku bukan anak laki-laki. (hlm. 154)

Menjadi seorang guru, Miss Oishi juga memiliki kegelisahan dan ketakutan sendiri. Kepada anak-anak didiknya yang laki-laki, ada ketakutan perang akan merenggut masa depan mereka. Miss Oishi jelas ingin anak-anak didiknya memiliki masa depan yang lebih baik, tapi pada zaman perang ada hal-hal yang tak bisa dihindari atau dicegah begitu saja.

Entah bagaimana mereka akan membicarakan tentang perang pada keluarga mereka; tetapi bisa dipastikan nanti pun mereka akan direkrut menjadi tentara, seperti yang lain-lainnya, entah mereka suka atau tidak. (hlm. 159)

Membaca Twenty-Four Eyes, kita akan merasakan kehangatan dan ketulusan Miss Oishi dalam mendidik murid-murid yang ia cintai. Kita pun akan dibuat terharu dengan perjuangannya dalam menghadapi dan mengatasi setiap permasalahan yang ada. Pergolakan batin pun sempat ia rasakan sampai sempat ingin berhenti menjadi guru.

Dulu pakaian gaya Barat-nya, dan sepedanya, dianggap terlalu modern, tetapi toh gaya itu mulai menjadi mode. (hlm. 212)

Kita akan diajak mengikuti kisah Miss Oishi dari awal perjalanannya menjadi guru hingga berkeluarga dan memiliki tiga anak. Dalam perjalanannya ada banyak kisah sedih dan haru yang dilalui. Selain itu ada banyak momen manis yang sangat menghangatkan hati.

Novel ini juga menceritakan gambaran situasi Jepang pada zaman perang. Dari sosok Miss Oishi, kita bisa menemukan pesan-pesan penting soal kedamaian dan humanisme. Serta dari 12 anak didik Miss Oishi, ada banyak momen berkesan yang sangat menyentuh hati. 

#ElevateWomen