Fimela.com, Jakarta - Sahabat Fimela, gula memang menjadi bagian tak terpisahkan dari pola makan modern. Mulai dari minuman manis, camilan kemasan, hingga makanan utama, semuanya kerap mengandung gula tersembunyi yang dikonsumsi tanpa disadari. Jika dikonsumsi berlebihan, gula tidak hanya berdampak pada berat badan, tetapi juga memengaruhi proses penuaan dan kesehatan tubuh secara keseluruhan.
Dalam dunia kesehatan, konsumsi gula berlebih diketahui dapat memicu proses glikasi, yaitu kondisi ketika gula berikatan dengan protein di dalam tubuh dan membentuk zat berbahaya bernama advanced glycation end products (AGEs). Penumpukan AGEs inilah yang mempercepat penuaan, merusak jaringan tubuh, serta meningkatkan risiko berbagai penyakit degeneratif.
Tak sedikit orang yang sebenarnya sudah menunjukkan tanda-tanda awal bahwa tubuhnya kewalahan menghadapi asupan gula harian. Dilansir dari Healthnist, berikut ciri-ciri orang yang sebaiknya mulai diet gula demi menjaga kesehatan dan memperlambat proses penuaan dini. Yuk simak penjelasan lengkapnya, Sahabat Fimela!
1. Mudah Lelah dan Energi Cepat Turun
Jika kamu sering merasa lemas meski sudah makan, ini bisa menjadi tanda lonjakan gula darah (glucose spike). Konsumsi gula berlebih menyebabkan naik-turun gula darah secara drastis, yang akhirnya membuat tubuh cepat kehabisan energi dan terasa lesu.
2. Kulit Tampak Kusam dan Cepat Menua
Gula berlebih memicu proses glikasi yang merusak kolagen dan elastin pada kulit. Akibatnya, kulit kehilangan elastisitas, tampak kusam, menguning, dan garis halus lebih cepat muncul. Ini menjadi salah satu tanda paling umum bahwa tubuh perlu mengurangi asupan gula.
3. Berat Badan Sulit Turun Meski Sudah Diet
Asupan gula yang tinggi membuat tubuh lebih mudah menyimpan lemak dan menghambat metabolisme. Selain itu, lonjakan insulin akibat gula berlebih juga menyulitkan tubuh untuk membakar lemak secara optimal.
4. Sering Mengalami Glucose Spike Setelah Makan
Lonjakan gula darah setelah makan, terutama jika mencapai lebih dari 140 mg/dl, menandakan tubuh kesulitan mengelola gula. Kondisi ini memicu pembentukan aldehida dan AGEs yang mempercepat kerusakan sel dan penuaan.
5. Mudah Lapar dan Craving Makanan Manis
Kecanduan gula membuat tubuh terus-menerus meminta asupan manis. Ini terjadi karena gula memengaruhi hormon lapar dan kenyang, sehingga seseorang jadi sulit mengontrol porsi makan dan cenderung makan berlebihan.
6. Risiko Penyakit Degeneratif Meningkat
Penumpukan AGEs dalam tubuh dikaitkan dengan meningkatnya risiko diabetes, penyakit jantung, arteriosklerosis, hingga gangguan kognitif seperti demensia. Jika memiliki riwayat keluarga dengan penyakit tersebut, diet gula menjadi langkah preventif yang penting.
7. Sering Melewatkan Sarapan
Kebiasaan tidak sarapan diketahui membuat lonjakan gula darah setelah makan siang menjadi lebih tinggi. Hal ini memberi beban ekstra pada pankreas dan mempercepat stres glikatif dalam tubuh.
8. Pola Makan Terlalu Tinggi Karbohidrat dan Minim Protein
Diet yang didominasi karbohidrat sederhana tanpa keseimbangan protein dan lemak sehat meningkatkan risiko glikasi. Idealnya, tubuh mendapatkan asupan dengan keseimbangan protein, lemak, dan karbohidrat agar penyerapan gula berlangsung lebih lambat.
9. Nyeri Sendi dan Tubuh Mudah Pegal
Glikasi juga berdampak pada jaringan tulang rawan dan kolagen di sendi. Akibatnya, sendi menjadi lebih kaku dan rentan mengalami peradangan, bahkan di usia yang relatif muda.
10. Pola Makan Tidak Teratur dan Terlalu Jarang Makan Sehat
Kebiasaan mengandalkan roti manis, camilan instan, dan makanan cepat saji sebagai pengganjal lapar bisa mempercepat penumpukan AGEs dalam tubuh. Pola makan ini menjadi sinyal kuat bahwa diet gula sudah sangat dibutuhkan.
Mengurangi gula bukan berarti menghilangkan rasa nikmat dalam makanan, melainkan mengatur asupan dengan lebih bijak. Mulai dari memperbaiki pola makan, menambah protein dan serat, hingga membiasakan makan teratur dapat membantu tubuh melawan stres glikatif. Dengan diet gula yang tepat, tubuh tidak hanya terasa lebih bugar, tetapi juga terlindungi dari penuaan dini dan berbagai risiko penyakit di masa depan.
Penulis: Siti Nur Arisha