Fimela.com, Jakarta - Menjadi orangtua adalah perjalanan luar biasa yang mengubah banyak aspek kehidupan. Namun, di balik kebahagiaan menyambut buah hati, tidak sedikit orang tua, terutama ibu, yang merasakan pergeseran identitas mendalam. Perasaan ini seringkali tidak terduga dan bisa sangat membingungkan.
Kehilangan identitas setelah memiliki anak berarti hilangnya perasaan akan diri seseorang sebelum kelahiran. Identitas diri seseorang terbentuk dari berbagai elemen, termasuk hubungan, pertemanan, kebangsaan, budaya, dan pekerjaan. Pergeseran ini mencakup perubahan prioritas dan gaya hidup secara signifikan.
Banyak ibu kerap mengalami fenomena ini, memicu perasaan isolasi dan kesedihan yang mendalam. Perubahan besar dalam hidup ini dapat terjadi segera setelah bayi lahir, membuat banyak orang tua merasa tidak siap menghadapi realitas baru tersebut.
Pergeseran Prioritas dan Tantangan Identitas Diri
Transformasi menjadi orangtua merupakan pengalaman mendalam yang mengubah cara individu memandang diri sendiri. Prioritas hidup bergeser secara drastis, dengan kebutuhan anak menjadi pusat perhatian utama. Hal ini bisa membuat orang tua merasa hidup mereka tidak lagi berpusat pada diri sendiri, melainkan sepenuhnya didedikasikan untuk buah hati.
Identitas profesional dan karier juga seringkali terpengaruh, Sahabat Fimela. Orangtua baru, khususnya ibu, mungkin merasa kehilangan kemampuan untuk mengejar ambisi karier atau menghasilkan uang. Sebuah survei menunjukkan lebih dari separuh orang tua mengaku telah menolak peluang karier karena tuntutan membesarkan anak.
Banyak ibu berjuang menghadapi krisis identitas profesional setelah menjadi seorang ibu, terutama saat menyeimbangkan karier dan peran pengasuhan. Beberapa ibu yang memilih meninggalkan karier yang memuaskan untuk menjadi ibu rumah tangga bahkan mengalami gejala mirip syok, meskipun itu adalah pilihan mereka. Ini menunjukkan betapa besar dampak perubahan ini terhadap diri mereka.
Menjadi orang tua melibatkan pergeseran psikologis mendalam yang dikenal sebagai fase individuasi ketiga. Fase ini membentuk kembali identitas, nilai, dan persepsi diri di luar tindakan fisik menjadi orang tua. Ini bukan hanya tentang mengambil tanggung jawab baru, melainkan tentang membentuk ulang keseluruhan identitas seseorang.
Terkikisnya Kehidupan Sosial dan Waktu Pribadi
Kehidupan sosial seringkali terabaikan setelah memiliki anak. Waktu untuk bersosialisasi dengan pasangan dan teman-teman menjadi sangat terbatas. Pertemanan dapat merenggang, menyebabkan perasaan terisolasi dan kesepian.
Waktu luang yang dulunya bisa digunakan untuk hobi atau relaksasi kini dipenuhi tanggung jawab mengurus anak dan pekerjaan rumah tangga yang seolah tidak ada habisnya. Banyak orang tua (38%) mengatakan mereka merindukan hobi lama mereka. Tidak ada lagi waktu untuk diri sendiri, bahkan untuk hal-hal sederhana seperti membaca buku atau menonton film.
Hilangnya spontanitas dan kebebasan juga menjadi keluhan umum. Aktivitas spontan tidak lagi (atau jarang) mungkin terjadi, karena hidup orang tua berputar di sekitar jadwal dan kebutuhan anak-anak mereka. Setiap rencana harus dipertimbangkan matang-matang dengan mempertimbangkan si kecil.
Perubahan penampilan fisik juga dapat memengaruhi kepercayaan diri orang tua baru. Meskipun sering dibicarakan tentang hilangnya bentuk tubuh sebelum kehamilan, hilangnya identitas, kepribadian, pikiran, atau kehidupan sebelum menjadi ibu juga merupakan hal yang signifikan. Ini menambah kompleksitas perasaan kehilangan diri.
Beban Psikologis dan Ekspektasi Lingkungan
Banyak orang tua merasa bersalah saat menginginkan sesuatu untuk diri mereka sendiri. Ideologi pengasuhan intensif seringkali menuntut orangtua mencurahkan setiap momen, upaya, uang, dan perhatian kepada anak-anak. Tidak heran jika orang tua merasa bersalah karena meluangkan waktu untuk diri sendiri atau mengejar minat pribadi.
Fluktuasi hormonal selama dan setelah kehamilan dapat memengaruhi kondisi mental dan emosional seorang wanita secara signifikan. Kurang tidur kronis dan tuntutan konstan untuk perhatian bayi juga berkontribusi pada perubahan mental. Penelitian mengkonfirmasi hampir semua mamalia betina mengalami "perubahan mendasar" selama kehamilan dan setelah melahirkan, termasuk perubahan otak.
Ekspektasi sosial terhadap peran ibu juga memberikan tekanan besar. Masyarakat sering mengharapkan wanita memikul sebagian besar tanggung jawab di rumah, termasuk mengasuh anak dan mengelola rumah tangga. Arketipe sosial "ibu sempurna" menekan wanita untuk memprioritaskan peran ibu di atas segalanya, seringkali mengorbankan individualitas mereka.
Kehilangan identitas ini juga dapat memengaruhi hubungan dengan pasangan. Sekitar 29% orang tua mengakui bahwa membesarkan anak telah menyebabkan ketegangan dalam hubungan mereka. Dinamika komunikasi, keintiman, dan tanggung jawab bersama dapat mengalami pergeseran substansial dalam hubungan pasangan.