FASHION & STYLE

Chitra Subiyakto: Setahun, Waktu untuk Wujudkan Wardrobe Film yang Sempurna

By Monica Dian   -   11 Januari 2017

Tak dipungkiri, dalam sebuah film, sangat dibutuhkan peran stylist. Chitra Subiyakto, stylist sekaligus desainer fashion, membagikan pengalamannya kepada FIMELA saat menangani kostum film.

Kiprah film Indonesia di dunia internasional, seperti yang dibuktikan oleh film “Athirah”, semakin menegaskan geliat tumbuhnya film-film nasional. Kebangkitan ini pun bahkan memacu para sineas muda untuk menghasilkan karya yang lebih berkualitas. Dan keberhasilan sebuah film tentu saja tidak luput dari peran stylist atau penata busana, karena posisi satu ini berperan dalam menambah ‘rasa’ pada karakter tokoh dan adegan film. 

Film-film yang memiliki wardrobe menawan terbukti memiliki pesona dan memberikan kesan mendalam bagi siapa pun yang menonton. Tapi, keinginan untuk mewujudkan sebuah film yang stylish memang tergantung dari naskah dan keinginan visual sang sutradara. Apakah ingin membuat film yang setiap adegannya penuh pakaian-pakaian indah yang memanjakan mata atau tidak. Saat sebuah film sudah diarahkan untuk memanjakan mata secara visual, lewat kostum-kostum (wardrobe) yang indah ini lah, seorang fashion stylist berperan.

Bicara soal penata busana, pada gelaran Festival Film Indonesia (FFI) 2016 lalu, nama Chitra Soebiyakto berhasil membawa pulang penghargaan Penata Busana Terbaik melalui film “Athirah”. Chitra jelas bukan figur baru di dunia fashion tanah air. Ia telah menjadi penata busana untuk puluhan judul film. Kini, kariernya bergerak dinamis dengan kesuksesan brand Sejauh Mata Memandang yang fokus pada pembuatan batik dengan motif-motif yang baru.

 

A photo posted by Chitra Subyakto (@chitras) on

 

FIMELA (F): Terbilang senior dan sudah lama jadi penata busana untuk film, sudah berapa film ditangani?

Chitra Subiyakto (CS): Sudah banyak sekali, sampai lupa apa saja filmnya. Tapi beberapanya adalah Brownies, Ungu Violet, Heart, Badai Pasti Berlalu, Laskar Pelangi: Sang Pemimpi, Sang Penari, Pendekar Tongkat Emas, AADC, dan Athirah.

 

 

F: Bagaimana awal mulanya bisa terjun sebagai penata busana untuk film?

CS: Dulu saat majalah remaja masih terbilang jarang, Sarah Sechan dan Ibu Dian Muljadi mengajakku bergabung dengan majalah remaja baru. Pada waktu itu, banyak hal yang aku pelajari, mulai dari mengarahkan gaya, menentukan konsep foto, sampai menulis artikel. Nah, dari situlah orang-orang film melihat cara kerjaku dan akhirnya mengajakku untuk menangani busana di film. Menurutku, bekerja di majalah jadi batu loncatan yang sangat bermanfaat jika kita ingin jadi stylist. Dan film pertama yang aku tangani adalah “Brownies” arahan Hanung Bramantyo.

  

 

F: Seperti apa sebenarnya pekerjaan sebagai penata busana untuk film?

CS: Bekerja sebagai penata busana di film sangat menarik. Di sinilah tugasku untuk memanjakan mata penonton. Karena aku harus menyesuaikan busana dengan setting, cerita, dan para tokoh serta bekerja sama dengan art director-nya. Dari kata-kata yang ada pada dialog, di situ aku mengkhayal dan belajar bagaimana caranya mempresentasikan semua elemen dalam film pada busana sehingga film terkesan seperti nyata. Seru sekali bisa jadi penata busana untuk film. Apalagi kalau team-nya asyik. Aku bisa ketemu dengan banyak orang dengan karakter yang berbeda-beda. Walau melelahkan, tapi aku tetap menikmatinya.

 

 

F: Apakah penata busana yang juga seorang desainer harus merancang khusus untuk film atau mengambil dari koleksi lama?

CS: Pastinya bikin baru karena setiap film berbeda-beda. Contohnya untuk film “Laskar Pelangi”, aku harus memperlihatkan busana yang terlihat bau, meski sebenarnya baju itu baru.

 

 

F: Berapa lama waktu untuk menyiapkan busana film?

CS: Sekitar 6 – 12 bulan, itu waktu yang paling ideal dan sempurna. Biasanya sebelum proses produksi, aku datang dulu ke lokasi syuting untuk melihat situasi dan suasana yang nantinya akan aku sesuaikan dengan kostum film. Aku sendiri juga pilih-pilih saat memutuskan untuk menangani film. Film yang waktu produksinya mepet biasanya aku tolak soalnya aku perlu persiapan matang yang tidak bisa dilakukan dalam waktu sempit.

 

 

F: Apa pendapatmu soal sosok-sosok seperti fashion influencer yang terjun sebagai personal stylist? Apalagi lima tahun ke belakang ini fashion stylist banyak dilirik untuk menangani film, terutama film garapan sineas muda.

CS: Menurutku bagus karena dulu fashion dianggap sebagai bidang yang nggak menghasilkan. Padahal fashion itu luas sekali, ada fashion stylist, fashion photographer, dan fashion designer. Kalau ada yang mengeksplor fashion, bagus sekali. Yang penting, setiap fashion stylistbisa melihat karakter orang yang didandani, seperti melihat bentuk badan, warna kulit, dan tema acaranya.  Fashion itu tentang kamuflase. Tugas fashion stylist adalah membuat orang yang didandani jadi stand out tanpa harus terlihat berlebihan.

What do you think?

Write Your Comment

Articles you might be interested in

You don't want to Miss

Gaya outfit yang berani dari perempuan stylish Tokyo.
Untuk personal style yang lebih bergaya Korea, maybe?
Koleksi unik dan fun untuk yang berjiwa petualang.
Karena style bukan hanya dari outfit, tapi juga rambut.