KAPANLAGI NETWORK
MORE

Gucci Spring Summer 2018 Review: Disko 80an di Milan

Minggu, 24 September 2017 12:00 Oleh: Stanley Dirgapradja

Alessandro Michele menggunakan inspirasi 80an secara total. Dipresentasikan dalam ruangan dengan penerangan redup, serta lampu sorot runway kerlap-kerlip. Seperti di dalam club bawah tanah.

Semua yang hadir di fashion show Gucci Spring Summer 2018 setuju bahwa mood terbesar koleksi ini adalah everything 1980s, dengan gemerlap disko sebagai semangat utamanya, shoulder pad, warna-warna mencolok yang identik dengan Gucci era creative director Alessandro Michele, sampai gaya rambut khas era 80an juga terlihat di runway.

Alessandro yang tinggal di Roma nampak menjadikan sejarah kota tempat tinggalnya itu juga sebagai bagian dari set runway. Para show goers dikeliling oleh patung-patung, memorabilia historis dari Roma, Yunani, Aztek, Mesir (yang sebenarnya merupakan properti film dan dikirim dari Roma). Untuk semacam menciptakan pengalaman utuh di koleksi Spring Summer 2018 Gucci ini. Sambil menegaskan bahwa ia berada dalam mood kreatif yang sudah sesuai keinginannya. He is in his own time. Sebagai respons dari sebagian pihak yang mungkin sudah jengah dengan Gucci yang sangat maksimalis, retro dan super eksentrik. Tuntutan untuk menjadi baru, menurut Michele di show notes, awal dari hilangnya kreativitas.

Gucci Spring Summer 2018 by Alessandro Michele, First Look

Jadi, yang terbaik yang bisa dilakukan sekarang adalah menikmati Gucci dengan semua fantasi yang dihadirkannya untuk kita. Dan musim depan itu adalah disko 80an yang glam, sedikit rock, dengan sentuhan sporty, juga preppy. Menggabungkan inspirasi yang lebih terkini, kontemporer dengan semua yang terjadi di masa lampau. Dan michele memang tipe yang ingin selalu bisa bersentuhan dengan sejarah. Dan DNA gucci yang baru ini, yang lama tapi rasa baru ini, sangat disukai di media sosial dengna semua detailnya yang meriah.

Untuk memperdalam sentuhan retro ini, terlihat di runway, quilted skirt yang seperti dibuat dari bed cover tua, cardigan nenek-nenek, bomber jacket, jaket dan celana parasut yang nampak seperti preloved atau vintage findings, bahkan setelan laki-laki yang dipakai setelah dilipat begitu lama sampai terlihat bekas-bekas lipatannya (pasti ini sebuah kesengajaan). Semuanya ditemani detail payet, glitter, serta beberapa look yang menggunakan satin, juga beludru.

Motif yang muncul bersama logo Gucci antara lain leopard, floral, not balok, bordiran burung, yang muncul di coat, sweater, dress kulit, bahkan setelan kulit. Aksesori musim depan menghadirkan kalung bertumpuk dengan detail mirip gading yang bahkan dipakai dengan setelan, selop model baru, tote bag baru, belt bag yg dipake dgn coat, tas kulit ular, sampai tinted glasses.

Seperti yang sudah dipaparkan di awal, runway Gucci kali ini begitu redup. Saking redupnya, cahaya tidak cukup untuk melihat semua look yang berjalan dengan jelas. Seperti yang diulas oleh Vogue, nampaknya penglihatan yang jelas ini tidak penting untuk Alessandro Michele. Karena yang penting, semua pakaian ini berada dalam mood, set, dan atmosfir yang tepat. Baginya, membicarakan koleksi tak lagi hanya pakaian, tapi semua detail tadi secara total.

Komentar Anda
Keep going