KAPANLAGI NETWORK
MORE

Inilah Laki-Laki yang Siap Mengubah Dunia Fashion di Inggris

Rabu, 12 April 2017 17:00 Oleh: Stanley Dirgapradja

Sepanjang sejarah British Vogue, figur fashion terkenal satu ini menjadi laki-laki pertama yang terpilih untuk memimpin tim editorial majalah fashion ternama ini.

Edward Enninful

Seperti ditulis oleh Business of Fashion, terpilihnya sosok Edward Enninful menjadi Editor in Chief terbaru bagi British Vogue menggantikan Alexandra Shulman (yang sudah 25 tahun menjabat dan akan meninggalkan posisi tersebut Agustus nanti), akan membawa banyak hal baru bagi Vogue Inggris.

Selain Edward adalah laki-laki pertama yang menjabat posisi itu dalam sejarah British Vogue, laki-laki berusia 45 tahun yang aktif di Instagram itu juga diprediksi akan membawa banyak perubahan bagi British Vogue dan dunia serta bisnis fashion di Inggris secara keseluruhan. How so?

Edward memulai karier di fashion sebagai model untuk majalah fashion cult i-D di usia 16 tahun, di usia 17 tahun ia mulai menjadi stylist, dan di usia 18 ia sudah menjadi fashion editor termuda untuk majalah tersebut (di Indonesia, umur itu masih bergembira ria di SMU). Dan sepanjang kariernya di fashion, ia sudah berkolaborasi dan menciptakan foto-foto fashion bersama banyak nama terkenal. Dari Naomi Campbell sampai Gigi Hadid – yang keduanya dekat dengan Edward.

Alexandra adalah penulis, sementara Edward adalah image maker, jadi bisa dibayangkan – dari dua poin ini saja kita bisa membayangkan akan seperti apa British Vogue di kendalinya. Banyak yang mengamati, Alexandra memberi sentuhan fashion feature, kultur, dan art yang kental di British Vogue. Sementara sebagai seorang stylist, yang akan memimpin majalah fashion, rasanya kita akan melihat sederet foto-foto editorial yang kuat (he's known for his edgy elegant styling) dari Edward.

Naomi Campbell, Kate Moss styled by Edward Enninful, photographed by Steven Klein, August 1994 (i-D Magazine)

Sudut pandang seorang stylist (di posisinya terakhir Edward masih menjabat sebagai style director untuk W) tentu akan memberikan interpretasi dan presentasi yang berbeda bagi isi sebuah majalah. Ini mengingatkan kita pada sosok Grace Coddington yang juga memulai karier fashion-nya sebagai model. Bila Grace masih harus bersitegang dengan Anna Wintour (remember that moment from September Issue film?), maka Edward punya kebebasan lebih nampaknya. Termasuk berkolaborasi dengan beberapa fotografer fashion kenamaan yang karyanya belum pernah muncul di British Vogue, tapi sering bekerjasama dengan Edward.

Another point that we particularly noted, Edward yang aktif di Instagram (juga sosok yang bergaul di lingkup kultur sampai Hollywood, sehingga rasanya bisa membawa visi yang sangat luas) bisa menjembatani generasi fashion yang lebih berumur dengan milenial yang hidupnya ada di media sosial. Untuk seorang laki-laki berusia 45 tahun,aktif di Instagram that's quite something. Tak banyak laki-laki 45 tahun yang rela atau rutin berbagi di media sosial. Edward diprediksi bisa melakukan sesuatu yang meraih lebih banyak pembaca muda, sementara di saat yang sama tetap merangkul mereka yang membaca British Vogue namun tak aktif di media sosial. Bandingkan dengan Alexandra yang terlihat cukup pasif di media sosial atau Anna yang sama sekali tak ada di Instagram.

Poin menarik berikutnya, Edward adalah imigran. Ia bersama keluarganya pindah dari Ghanna ke Inggris saat ia masih kecil. Di tengah semua isu imigran saat ini, sosoknya bisa menjadi harapan dan acuan bagi banyak orang di luar sana. Bahwa bekerja untuk Vogue tak hanya mimpi. Walau perjalanan ke sana akan cukup panjang.

Tantangan bagi Edward? Memimpin tim British Vogue termasuk bagian pemasaran – yang merupakan hal baru baginya. Ia tak hanya bertanggung jawab menciptakan sederet fashion dan editorial yang kuat, tapi juga diharapkan mampu menambah sirkulasi British Vogue di tengah tekanan kultur online beberapa tahun terakhir (termasuk memikirkan bagaimana situs British Vogue tetap mendapat hits yang tinggi).

Komentar Anda
Keep going